5 Penyebab Anak Kecanduan Gadget Beserta Cara Mengatasinya

penyebab anak kecanduan gadget
sumber foto : summitmedia-digital.com

Dengan perkembangan teknologi sekarang ini membuat banyak sarana yang berbasis digital, salah satunya adalah smarthphone atau lebih dkenal dengan gadget. Gadget mempunyai banyak manfaat, namun juga bisa berdampak buruk jika sudah kecanduan gadget pada usia dini atau anak-anak.

5 Penyebab Kecanduan Gadget pada Anak

Gangguan pada anak sangat bervariasi, salah satunya difteri dan kecanduan gadget. Anak harus selalu diawasi dengan baik. Pada usia anak-anak, banyak faktor yang menyebabkan pertumbuhan anak menjadi terhambat, salah satunya dengan gadget.

Berikut penyebab anak yang sudah kecanduan pada gadget beserta cara mengatasinya.

1. Game

Game pasti membuat seseorang menjadi kecanduan. Jika anak sudah bisa bermain game, maka ia akan terus bermain tanpa mau berhenti, begitu juga bagi orang dewasa. Bermain game memang dapat menghilangkan stres, namun jika berlebihan dapat berdampak negatif.

Game dapat menimbulkan kecanduan pada seseorang. Game bisa membuat seseorang lupa tentang semuanya, sehingga ia hanya senang dengan dunianya saja tanpa memperdulikan orang lain.

Cara untuk mengatasi kecanduan gadget karena game dapat dilakukan dengan tidak menginstal game pada smarthphone, tidak mengenalkan game pada anak, selalu awasi anak kapan saja ketika bermain gadget, serta memberikan perhatian lebih pada anak.

2. Bermain media sosial

Media sosial menjadi racun bagi dunia anak. Berbagai macam aplikasi media sosial dapat membuat anak menjadi pribadi yang beda. Media sosial memang mempunyai manfaat untuk memudahkan berkomunikasi dan memperoleh informasi dari berbagai sumber.

Namun, jika media sosial digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat akan berdampak negatif bagi perkembangan anak. Media sosial dapat membuat kecanduan pada anak, sehingg anak cenderung bersifat individual dan enggan berinteraksi dengan orang lain.

Cara mengatasi anak yang kecanduan media sosial, dapat dilakukan dengan memberikan batasan penggunaan media sosial, pengawasan pada anak, selalu memeriksa media sosial yang digunakan oleh anak, dan memberikan perhatian pada anak.

3. Menonton Youtube

Youtube menjadi salah satu hiburan yang tidak pernah habis penggunaanya. Youtube dapat memberikan berbagai konten yang diinginkan, baik itu lagu, video lucu, pendidikan, dan hiburan. Sehingga anak-anak senang bermain youtube kapan saja dan dimana saja.

Jika tidak ada pengawasan dari orang tua, anak akan kecanduan bermain youtube dan tidak suka berinteraksi dengan lingkunganya. Oleh karena itu, ketika anak sedang bandel jangan diberikan smartphone atau youtube karena akan memicu ketagihan pada anak.

4. Merasa hidup di dunia maya

Anak yang merasa kesepian dan tidak mempunyai teman, akan lebih suka menyendiri dan bermain mediao sosial. Sehingga ia merasa hidup di dunia maya, karena semua teman atau orang yang ia kenal hanya bisa lewat chat atau video tidak bisa bertemu langsung.

Anak yang kecanduan gadget akan merasa nyaman berteman dengan dunia maya, daripada berkomunikasi dengan orang lain di sekitarnya. Sehingga sebagai orang tua, harus memperhatikan perkembangan dan kebutuhan anak sejak kecil agar ia tidak merasa sendiri.

5. Kurangnya perhatian orang tua

Faktor yang paling utama adalah kurangnya perhatian orang tua. Orang tua yang sibuk dengan dunia dan kerjanya dapat membuat anak menjadi pribadi yang egois dan tidak bisa berinteraksi dengan orang lain.

Anak lebih suka menyendiri dan bermain gadget. Dunia yang ia miliki tergantung pada gadget, sehingga ia tidak peduli dengan orang lain. Hal ini sangat berbahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Apa Itu Speech Delay?

Istilah tersebut merupakan keterlambatan bicara yang diderita oleh anak karena adanya infeksi pada tenggorokan sehingga akan menyebar ke sistem saraf dan membuat kemampuan berbicara anak berkurang.

Anak yang menderita hiperaktif  mempunyai gerakan yang tidak umum. Anak akan selalu bergerak secara berlebihan dan lebih agresif. Bahkan tidak dapat dikendalikan. Sang anak lebih sering merusak segala sesuatu dan tidak bisa fokus dan berkonsentrasi.

Leave a Comment